MBCIndonesia.com, Bireuen – Walaupun tidak ada penetapan petugas khusus penjaga sejumlah jembatan bailey di Kabupaten Bireuen. Namun sejak pembangunan jembatan rampung dan di peuseujuk bisa beropresi. Aktivitas arus lalu lintas berangsur normal.
“Aktivitas arus lalu lintas mulai berangsur normal, tak ada masalah,” sebut Babinsa Serma Hasanuddin, Senin (5/1/2026). Hasanuddin menjelaskan setelah anggota DPD RI, dapil Aceh, Sudirman Haji Uma menanyakan siapa yang menjaga jembatan.
Kebetulan Saat Mau Ngopi, Terlihat Anggota DPD RI Cek Jembatan
Serma Hasanuddin mengatakan, berawal tidak mengetahui anggota DPD RI mengecek Jembatan Bailey Teupin Mane. Kebetulan melihat sejumlah orang di lokasi, dan saya hampiri, ternyata Sudirman Haji Uma bersama sejumlah wartawan.
“Awalnya saya tidak tahu, kebetulan setiap sore saya ngopi di warkop sekitar jembatan, terlihat ada beberapa orang di jembatan, dan saya datangi. Ternyata Aji Uma bersama sejumlah wartawan untuk memastikan kejadian dugaan perusakan sejumlah baut oleh Orang Tidak Dikenal (OTK).
Serma Hasanuddin menguraikan, saat di Lokasi jembatan, Haji Uma bertanya ke saya. “Bpk siapa, apa jabatan Bpk di Kampung ini? “Saya Babinsa di sini, ada apa Pak,” ujarnya.
Kemudian, sambungnya. Haji Uma menannyakan, sebagai Babinsa, bagaimana bisa kejadian di jembatan ini, sedangkan jembatan ini di jaga 24 jam. “Tidak ada penjagaan Pak, setelah kejadian baru di jaga, itupun patroli 2 jam sekali,” terang Babinsa.
Arus Lalu Lintas Berangsur Normal, Namun Jalan Juli dan Kuta Blang Beda
Haji Uma pun menanyakan kembali tentang kendaraan lalu lalang melintas, Ia menyebutkan, bahwa kendaraan melintas muatnya satu.
“Aktivitas arus lalu lintas tanpa ada kendala, kendaraan yang melintas di jembatan tidak ada masalah. Mereka lewat seperti biasa sendiri, begitu pun antrian bergantian sendiri. Artinya kondisi mulai berangsur normal,” tegas Babinsa kepada Haji Uma.
Peran Aktif Babinsa di Desa Binaan
Serma Hasanuddin menjelaskan, sebagai Babinsa Koramil 05/Juli, Kodim 0111/ Bireuen. Dia bersama perangkat Desa Teupin Mane bertanggung jawab dan aktif memonitor situasi di wilayah binaanya.
“Situasi arus lalu lintas Bireuen menuju Takengon beda dengan jalan Medan ke Banda Aceh di Kuta Blang. Jumlah kendaraan yang melintas silih berganti. Jadi mungkin, Haji Uma ini beramsumsi bahwa ada penjagaan siang dan malam. Mungkin dengar di media sosial, bukan melihat fakta di lapangan,” terangnya.
Tunjukan Bukti Pencopotan Baut dan Bendera Merah Putih
Hasanuddin juga menunjukan kepada Sudirman Haji Uma beberapa komponen yang telah terbuka dan sudah di ganti. Begitupun pencopotan sejumlah Bendera Merah Putih di jembatan lalu di potong oleh OTK.
“Selain baut pengikat jembatan, dari tiga puluh empat bendera merah putih. Sebanyak sepuluh bendera turut raib di cabut dan di robek. Kejadian ini hampir bersamaan,” jelasnya.
Penggiringan Opini
Serma Hasanuddin menyayangkan cara anggota DPD itu saat mengecek jembatan. Selain di videokan, turut menyertakan penjelasan berbagai dugaan. Haji Uma menyebutkan baut jembatan pendek dan tidak di lepaskan, melainkan terlepas oleh guncangan jembatan,” terangnya.
Alhasil, sambung Hasanuddin, video Haji Uma menyebar ke sejumlah media sosial. Sehingga banyak yang memanfaatkan dengan asumsi melintirkan. Hal ini terkesan menuding keterangan Kasad, Jenderal TNI Maruli salah alias tidak benar, ungkapnya.
Sempat Adu Argumen
Hasanuddin pun mengajak Haji Uma dan rombongan ke warung kopi yang ada di sekitar depan ujung jembatan.
Berikutnya perbincangan Anggota DPD RI, Dapil Aceh, Sudirman Haji Uma dengan Babinsa Serma Hasanuddin berlangsung di Warkop.
Haji Uma bertanya ke Babinsa. Jadi Bpk sebagai Babinsa sini yakin ngak itu orang yang mencuri atau yang merusak. Serma Hasanuddin menjawab yakin, karena yang membuat laporan itu saya, terangnya.
Haji Uma: apakah betul Pak Babinsa yang membuat laporan ke Kasad? “Iya betul. Laporan dasarnya dari saya dan saya Babinsa di sini. Walaupun laporan melalui atasan, tegasnya.
Lalu, Haji Uma menyebutkan. “Bapak tahu enggak ini marwah kita, orang Aceh ini sudah rendah seperti ini. Kesannya kita ini semuanya pencuri ataupun penjahat seperti di bilang Kasad itu. Jadi ini harus kita buat berita bahwa tidak benar kejadian seperti ini, ujar Haji Uma kepada Babinsa.
Serma Hasanuddin mengatakan. “Begini Pak, kita ini dari kecil lahir di didik, beragama Islam, berpendidikan umum sampai sekarang sudah dewasa, sudah bekerja di negara, sudah jadi orang tua. Kenapa pola pikir kita ini mau membela yang salah dan mau menyalahkan yang menyampaikan berita yang benar,” tegasnya.
Seharusnya, sambung Serma Hasanuddin, kita menyalahkan orang yang berbuat salah. Jadi bukan sebaliknya, ujarnya.
Bangun Politik
Lantas Haji Uma pun mengatakan, Pak Babinsa tau tidak politik. Babinsa tersebut menjawab, “Oh Bpk mau berpolitik di sini, silahkan Bpk berpolitik, tapi saya tidak ikut-ikutan, saya ini Tentara, saya satu Komando, Tegas dari bawah ke atas jelas,’ ungkapnya.
Kalau Bpk mau berpolitik, sambung Serma Hasanuddin, silahkan, saya tidak ikut-ikutan, tetapi dengan saya, Fakta apa adanya, dan orang di sini yang sangat tegas terhadap benar dan salahnya segala sesuatu, saya lah orangnya,” tegas Babinsa.
Serma Hasanuddin mengatakan, dalam pembahasan ini, salah satu tokoh masyarakat, M. Nasir Hamid dan juga seorang ASN di Kabupaten Bireuen memberikan pendapat. Dia menceritakan sesuai dengan kemauan sependapat Haji Uma, katanya.
Namun, Babinsa itu langsung angkat bicara. “Bpk jangan seperti itu, di Kampung ini, Bpk lahir di sini dan sampai Tua di sini, dan saya jadi Babinsa juga sudah lama di sini,” bantahnya.
Dari Laporan Ketua Pemuda Perusakan Jembatan Bailey
Babinsa itu pun menjelaskan, bahwa berkaitan dengan kejadian ini, yang melihat pertama adalah Ketua Pemuda, dan melaporkan kepadanya. “Kebetulan lagi berada di Kota Bireuen, lalu saya melaporkan kepada piket Koramil, kemudian piket bersama Ketua Pemud ke lokasi,” terangnya.
“Sesampai piket dan ketua pemuda di jembatan, melihat dan menyaksikan banyak Mure atau Baut yang sudah terbuka. Jadi, malam itu, Ketua Pemuda dan Piket Koramil itu ada juga memasangkan kembali sejumlah baut walaupun dalam gelap,” terangnya lagi.
Hasan mengatakan, sekitar pukul 07 Wib, Dirinya mendatangi lokasi dan mendokumentasikan sejumlah titik baut yang di lepaskan dari jembatan, termasuk membuat laporan. Serma Hasanuddin membuat berita himbauan kepada Grup Desa Teupin Mane dan Grup BKM Mesjid Baitulhuda, agar jangan terulang kembali, ujarnya.
Selain itu, Serma Hasanuddin menyebutkan, Haji Uma mengajak saya beserta beberapa rombongan wartawan balik ke jembatan. Di jembatan, Haji Uma diwancarai oleh sejumlah wartawan, begipun dirinya turut diwancarai.
“Nah, hasil wawancara Haji Uma itu saya lihat di medsos Facebook, Media Online dan TV. Sedangkan hasil wawancara saya itu tidak ada, bisa saja tidak di up, mengapa,” ungkapnya.
Mengajak Babinsa Agar Membuat Berita Tak Ada Perusakan Jembatan
Menurut Serma Hasanuddin, Haji Uma mau mengajak saya biar sepakat dengan beberapa tokoh masyarakat, untuk membuat berita, bahwa yang disampaikan Kasad itu salah. “Menurut saya, arah tujuanya kesitu, agar marwah diri orang Aceh tidak ada perbuatan seperti itu. Padahal Kasad menyebutkan ada kelompok orang yang keterlaluan,” sebutnya.
Adanya Tokoh Masyarakat Seorang ASN, Kabid Dayah Bireuen Kritik Pemerintah
“Begitu pun yang disampaikan Pak ASN, M. Nasir Hamid, saat itu juga diwancarai, bahwa dia juga tidak sepakat seperti yang disampaikan Kasad, Jenderal TNI Maruli, ada orang merusak jembatan segala macam,”
“Padahal Kasad hanya menyebutkan ada orang atau sekelompok tega merusak. Jadi kita jangan baper kalau memang tidak ada berbuat. Alangkah baiknya agar terlebih dahulu mencerna apa yang ada dalam berita,” imbuhnya.
Menurutnya, apa yang disampaikan M. Nasir Hamid juga sesuai dengan kemauan Haji Uma. Padahal Dia juga tidak tau tentang kejadian itu, dan setahunya Pak Nasir di Kampung, Dia adalah seorang Tokoh kritis, tetapi Dia PNS, ujarnya lagi.
Pertanyaan Haji Uma tentang menjaga jembatan 24 Jam.
Babinsa menerangkan, pada saat pekerjaan pembangunan jembantan, secara otomatis dijaga, baik TNI, Polisi banyak disitu. Tetapi setelah pembangunan jembatan selesai, dan peresmian boleh digunakan, itu tidak ada lagi penjagaan, karena arus lalu lintas sudah berangsur normal.
Respon Masyarakat Jembatan Bailey Rampung di bangun.
Babinsa menyebutkan, bahwa masyarakat sangat senang, justru warga mengatakan sangat berterima kasih kepada semua pasukan TNI Zipur yang membangun. Bekerja siang dan malam.
“Sampai ada stetmen Ibu-ibu warga setempat mengungkapkan. Untung ada Tentara-tentara itu yang membangun jembatan, kalau tidak kita bagaiman mau lewat kesana-kemari, kan terisolir kita di sini,” ujarnya menirukan ungkapan warga.
Kesengajaan Pencopotan Baut Jembatan Agar Truk Muatan Berat Ambruk
Serma Hasanuddin menilai, dugaan baut-baut itu sengaja di buka, tidak di buang, dan di letakan di atas badan jalan jembatan, mungkin asumsi mereka, pada saat kendaraan berat lewat itu harus jatuh.
“Begitu jembatan tumbang atau rusak, jadi kalau rusak, Tentara yang membangun ini agar citranya jelek, seolah-olah kerjanya tidak bagus. Kalau cuman di ganggu, kan mure-mure atau baut itu pasti di buang,” urainya.
Keterbukaan, Cek Kebenaran Melibatkan Unsur Forkopimda Bireuen
Babinsa pun menyayangkan, seharusnya saat kehadiran Haji Uma beserta rombongan ngecek jembatan tersebut, agar di informasikan terlebih dahulu.
“Seharusnya hadirkan baik yang membangun orang Zipur yang paham, dari Koramil dengan Polsek hadir, beserta Tokoh masyarakat juga hadirkan. Baru kita nanti di situ sama-sama menyampaikan berita apa adanya,” imbuhnya.
Menurutnya, kalau dia tujuan datangnya untuk kebaikan. Tapi kalau datangnya secara diam-diam bawa media, yang masing-masing mengambil dokumentasi. Saya menilai, dengan kehadiran saya, tiba-tiba di situ, mereka merasa risih, tidak sesuai dengan harapannya. Dia tidak bebas membuat berita,” pungkasnya.(ogit)















